Per Juli 2023, Indonesia menempati posisi kedua di dunia dalam hal jumlah perguruan tinggi, yakni mencapai 3.277 institusi. Dengan populasi sekitar 275 juta jiwa, artinya ada satu perguruan tinggi untuk setiap 84.000 penduduk.
Sekilas terlihat menjanjikan—seolah akses pendidikan tinggi di Indonesia begitu luas. Tapi mari kita lihat perbandingan dengan negara lain:
India: 52.000 perguruan tinggi, rasio 1:26.000.
China: 3.074 perguruan tinggi, rasio 1:455.000.
Amerika Serikat: 4.000 perguruan tinggi, rasio 1:82.500.
Dari sini kita bisa lihat bahwa meskipun jumlah institusi tinggi di Indonesia besar, rasio terhadap jumlah penduduk masih lebih rendah dari India dan Amerika Serikat. Artinya, distribusi akses pendidikan belum sepenuhnya merata.
Tapi yang lebih penting lagi: banyaknya jumlah perguruan tinggi belum tentu menandakan kemajuan. Justru banyak yang mulai mempertanyakan kualitas dari institusi-institusi tersebut. Tak sedikit kampus yang didirikan semata demi keuntungan, bukan demi mencetak generasi unggul. Kampus-kampus ini minim fasilitas, dosen seadanya, kurikulum yang tidak relevan, dan lulusan yang kesulitan masuk dunia kerja.
Ini jadi ironi yang menyakitkan: mahasiswa habis-habisan mengorbankan waktu, biaya, dan tenaga—tapi lulus dengan skill yang tidak cukup kuat. Bahkan kepercayaan diri pun hilang, karena mereka tidak siap menghadapi realita di lapangan.
Jadi, Lebih Baik Kuliah atau Tidak?
Jawabannya: tergantung. Kuliah bisa jadi langkah penting kalau:
Kamu ingin masuk bidang profesional (dokter, arsitek, guru, dsb).
Kamu ingin dapat pondasi teori dan berpikir kritis.
Kamu butuh ijazah untuk syarat kerja atau CPNS.
Kamu ingin bangun jejaring (networking) dan pengalaman organisasi.
Tapi di sisi lain, nggak kuliah juga bukan kiamat, asalkan:
Kamu tahu passion kamu di bidang praktis (bisnis, coding, desain, dll).
Kamu rajin belajar mandiri lewat kursus, bootcamp, atau komunitas.
Kamu bangun portofolio yang bisa bicara lebih keras daripada ijazah.
Kamu berani gagal dan terus coba.
Yang perlu digarisbawahi: kalau pilihanmu cuma kuliah di kampus abal-abal atau belajar mandiri dengan serius—lebih baik pilih yang kedua. Sekarang banyak platform online dan komunitas yang justru bisa bantu kamu siap masuk dunia kerja lebih cepat dan lebih relevan.
Pendidikan Bukan Soal Gedung, Tapi Soal Dampak
Pendidikan tinggi idealnya mencetak generasi yang bukan hanya pintar, tapi juga relevan. Bukan hanya tahu teori, tapi siap kerja. Maka, saatnya kita berhenti mengejar kuantitas. Fokuslah pada kualitas.
Indonesia tak perlu ribuan kampus jika banyak di antaranya tak bisa memberi nilai. Lebih baik jumlahnya dikurangi, tapi kualitasnya ditingkatkan. Karena pada akhirnya, pendidikan yang baik bukan yang terlihat banyak di peta, tapi yang terasa dampaknya di kehidupan nyata.






